About

Persamaan dan Perbedaan Unsur-Unsur Instrinsik dalam Novel Perempuan Di Titik Nol Karya Nawal el-Saadawi dan Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari


 Sinopsis Novel Perempuan Di Titik Nol Karya Nawal el-Saadawi

Semasa kecil Firdaus sudah mampu menikmati hubungan seks, dengan teman sepermainannya; tanpa ia sadari bahwa itu adalah hubungan yang bisa membuatnya tak perawan lagi. Karena hidupnya selalu berada dalam kekurangan, akhirnya ia dibawa oleh pamannya dan disekolahkan ke kota. Tetapi hal itu tidak membuat kehidupannya lebih baik.
Sebelum dijatuhi vonis mati karena membunuh lelaki yang menjadi germo sekaligus suaminya sendiri itu, Firdaus hidup sebagai pelacur untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Setamat lulus seolah menengah, ia dikawinkan dengan lelaki tua yang masih bersaudara dengan istri pamannya. Tetapi pernikahan itu tidaklah lama karena suaminya tersebut memperlakukan Firdaus secara tidak manusiawi.
Ia memutuskan meninggalkan rumah suaminya tersebut ke jalanan. Di sepanjang jalan ia kelaparan dan kedinginan, menggelandang. Hingga akhirnya bertemu dengan lelaki yang menolongnya dengan imbalan tubuhnya. Demikianlah seterusnya ia berpindah dari satu tangan lelaki ke tangan lelaki lain. Kehidupan yang dijalaninya sebagai budak nafsu dan perlakuan kejam ari lelaki yang menolongnya itulah yang mendorongnya untuk lari. Kemudian ia menjajakan diri dengan cara menelusuri panjangnya jalan–jalan raya, hingga ia bertemu dengan bekas pelacur sukses yang telah menjadi germo.
Di sinilah ia didik menjadi seorang pelacur berkelas dengan tarif yang mahal. Tetapi kemudian Firdaus memutuskan hubungan germo-pelacur dan berusaha melacur tanpa peantara mucikari, dan ternyata ia sukses. Hidupnya berhasil dan sukses. Ia juga dapat bekerja di kantoran selaiknya wanita terhormat.
Firdaus akan berkata tidak pada lelaki yang tidak dikehendakinya, dan lelaki itu pun tidak akan pernah bisa membawanya. Ia akan mengatakan bahwa harga tubuhnya lebih tinggi dari berapapun yang dimiliki oleh orang yang menawar sekaligus tidak disukainya. Begitu pula sebaliknya. Ia akan menerima dengan senang hati bahkan gratis kepada orang yang diinginkannya.
Petaka pun datang karena ancaman germo lelaki yang memaksa mengawininya dan memeras uang dari tetesan keringat persetubuhannya dengan lelaki lain. Akhirnya Firdaus tidak tahan dan membunuhnya. Setelah membunuh suami sekaligus germo itu, ia kembali menggelandang di sepanjang jalan. Hingga kepala negara dapat membawa Firdaus ke ranjangnya.
Kepada kepala negara tersebutlah Firdaus mengaku bahwa ia seorang pembunuh. Tetapi kepala negara itu tidak percaya ada seorang perempuan cantik, lemah lembut, dan berkelas usai membunuh. Tetapi karena Firdaus menyerang si Kepala Negara, maka ia dijebloskan ke penjara. Meskipun ia disarankan meminta surat ampunan, ia tetap memilih vonis mati yang dijatuhkan pada akhir hidupnya.





















Sinopsis Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari

Keperawanan Srintil yang akan dilepas pada malam bukak klambu telah lebih dulu ia serahkan pada Rasus. Meski begitu, prosesi penahbisan dirinya sebagai ronggeng tetap dilewatinya dengan mulus meskipun ia sudah tidak lagi perawan.
Sejak malam itulah Srintil disahkan sebagai ronggeng. Rasus berkelana mencari jati diri meninggalkan Dukuh Paruk yang telah mengambil cintanya, hidup mengikuti arus; mengikuti pelatihan militer yang membawanya menjadi tentara. Seorang tentara yang nantinya akan dianggap sebagai pemegang kekuasaan oleh puak Dukuh Paruk.
Di sisi kehidupan yang lain, Srintil telah menjadi ronggeng sukses. Kehidupannya yang melarat berubah drastis; menjadi perempuan yang paling kaya di Dukuh Paruk. Ketenarannya inilah yang digunakan oleh oknum komunis untuk mengadakan rapat politik ketika ronggeng naik pentas. Karena hal inilah pemerintah mengambil sikap untuk membasmi komunis besrta antek-anteknya, pemain ronggeng; termasuk Srintil.
Dukuh Paruk akhirnya dihanguskan oleh pemerintah. Srintil ditangkap dan dipenjarakan. Keadaan menjadi kacau-balau, orang-orang Dukuh Paruk dikucilkan dari masyarakat daerah sekitar, karena dukuh tersebut dianggap menjadi penyebab semua tragedi dengan adanya ronggeng.
Selama beberapa tahun Srintil ditahan, semuanya ikut berubah. Kehidupan Dukuh Paruk semakin miskin, Srintil sendiri menjadi sangat tertekan. Ia menyadari bahwa kehidupan meronggeng itu salah karena melanggar norma etis dan estetis yang ada, yang tidak disadari oleh Dukuh Paruk yang memuja adanya ronggeng.
Rasus telah kembali ke Dukuh Paruk, ketika neneknya akan meninggal. Setelah ditahan selama hampir tiga tahun, Srintil pun dibebaskan. Meskipun mereka bertemu, cinta keduanya belum bisa meyatu. Apalagi setelah kedatangan orang-orang Jakarta yang mengerjakan proyek pengairan di Dukuh Paruk.
Salah satu orang Jakarta itu ada yang tertarik pada Srintil, tetapi ternyata ia impoten. Orang itu mendekati dan baik padanya karena ia ingin Srintil membalas kebaikannya dengan mau melayani tidur bos orang Jakarta tersebut.
Karena peristiwa di kamar hotel dengan bos orang Jakarta itulah Srintil menjadi depresi. Rasus melihat bahwa Srintil telah gila, pikirannya tak waras. Ronggeng Dukuh Paruk yang misuwur itu berubah menjadi perempuan sedeng yang tak lagi punya harga.
Meskipun demikian, Rasus tetap mencintainya. Dialah yang membawa Srintil ke rumah sakit jiwa militer, tempat ia mangabdi pada negara selama ini. Karena bagaimanapun, ia dan Srintl masih saling cinta. Hati keduanya telah tertaut jauh sebelum hari ketika Srintil meronggeng dan akhirnya gila.






Larasatun Woro Cengkir Gading











Kedua novel yang mengetengahkan dunia pelacur memang sudah banyak, dan bahkan sudah sulit dihitung dengan jari. Tetapi setiap cerita selalu mempunyai kekhasan tersendiri, meskipun mempunyai kesamaan tema. Perbedaan jelas akan mewarnai, meskipun sama-sama membahas dunia kepelacuran. Apalagi jika cerita tersebut berasal dari negara berbeda; dengan latar kebudayaan yang tentunya berbeda pula.
Hal tersebut juga terjadi pada kedua novel Perempuan Di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi berlatar kebudayaan Mesir dan Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari bercorak khas kebudayaan Indonesia. Dua karya ini sama-sama diakui sebagai sastra dunia, yang banyak dibaca dan dibicarakan oleh warga dunia. Masing-masing novel memang membicarakan tentang dunia kepelacuran, tetapi tentu saja akan ditemukan perbedaannya. Terutama teknik cerita pengarang, kultur masyarakat, penokohan, dan unsur-unsur yang lain.
Analisis berdasarkan unsur yang ada di dalam cerita kedua novel mengenai persamaan dan perbedaan tersebut dapat disimpulkan dengan tabel berikut:

No.
Unsur
Perempuan Di Titik Nol
Ronggeng Dukuh Paruk
1.
Cara melepas keperawanan
Firdaus saat masih kecil telah ‘bermain’ dengan teman sepermainannya. Sedari kecil ia mempunyai pengalaman nikmat dalam menikmati hubungan pesetubuhan.
Srintil menyerahkan keperawanannya ketika ia masih belia, sekitar 12 tahunan kepada Rasus sebelum malam bukak klambu dengan alasan cinta, upacara lelang keperawanan sebelum menjadi ronggeng.
2.
Cara yang digunakan untuk melacur (menjajakan diri)
Firdaus sering berjalan di sepanjang jalan agar orang terhenti untuk menawarnya. Belakangan ia dipegang oleh seorang mucikari perempuan yang telah mengajarinya cara menjadi pelacur berkelas.
Sebelum melayani lelaki biasanya Srintil menari ronggeng dulu. Ia juga pernah menjadi gowok, yaitu seorang perempuan yang disewa seorang ayah bagi anak lelakinya yang menginjak dewasa, dan menjelang kawin. Seorang gowok bertugas mengajari anak lelaki mengenai perikehidupan berumahtangga.
3.
Perantara pelacur (germo/
mucikari)
Firdaus mulanya berjalan tanpa arah dan berhenti ketika ada lelaki yang mengencaninya, kemudian ia dipegang oleh germo.
Seorang dukun ronggeng, yang merupakan anggota dari sebuah kelompok ronggeng (biasanya seorang perempuan, dan ia juga pernah menjadi ronggeng)
4.
Seting sosial budaya dan agama
Berbicara kepelacuran di Mesir. Di suatu negara Islam yang kental, ternyata dunia prostitusi juga mengalami satu sisi tingkatan yang bisa disebut sebagai virus fertilisasi.
Mencoba menampilkan pojok lain dari budaya Indonesia. Secara khusus terjadi di Dukuh Paruk. Cerita ini mampu membawa wajah dan vokal Indonesia ke permukaan. Terlihat juga agama Islam ikut andil memberi warna, meski tidak secara mayoritas dianut.
5.
Penokohan
Firdaus merupakan tokoh utama yang merupakan gadis dari desa, tetapi pendidikan yang sempat ia dapatkan membuatnya jauh lebih berkelas dan terhormat. Ia wanita cerdas, lemah lembut dan cantik.
Tokoh utama Srintil; kehidupannya disoroti dari awal sampai akhir. Ia cantik, anggun, warna hidupnya khas pedesaan; lugu, belum tersentuh modernisasi (kehidupan modern yang terjadi ketika itu), belum mengenal sekolah (tidak bisa baca), dan terbiasa hidup dalam keadaan miskin.
6.
Puncak konflik yang merubah kehidupan tokoh
Pembunuhan yang telah dilakukan oleh Firdaus kepada germo sekaligus suaminya yang selalu memanfaatkan tubuhnya demi mendapatkan harta.
Terbakarnya Dukuh Paruk karena dianggap mendukung pergerakan propaganda komunis. Banyak rumah hangus dan pertumpahan darah di Dukuh Paruk dan sekitarnya. Srintil sendiri pun akhirnya ditahan.
7.
Konsekuensi yang diterima tokoh
Vonis mati dari pengadilan karena telah membunuh dan melakukan kekerasan, yaitu menampar Kepala Negara yang sedang menidurinya.
Menderita jasmani dan rohani. Berpisah dengan Rasus yang dicintainya. Srintil juga dipenjara beberapa tahun, menjadi bulan-bulanan di sel tahanan, dan akhirnya ia menjadi gila.
8.
Ukuran kewibawaan
Jika Firdaus mengatakan ‘tidak’ maka siapapun lelaki itu tidak akan membawanya.
Tidak lelaki yang berani mendekati dan mengajaknya tidur jika Srintil  sudah berkata ‘tidak’.
9.
Penyesalan tokoh
Firdaus tidak menyesali kepelacurannya. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa lebih baik menjadi seorang pelacur daripada seorang istri. Karema menurutnya istri juga termasuk ‘pelacur’ dalam ‘bentuk’ berbeda.
Srintil menyesal dan menyadari bahwa keronggengannya itu ternyata ‘salah’ di dalam pandangan norma masyarakat. Hanya Dukuh Paruk saja yang membenarkan adanya ronggeng. Tetapi masyarakat di luar Dukuh Paruk mengartikan ronggeng tidak lebih dari seorang lonte, pelacur.
10.
Percintaan
Di sepanjang hidupnya, Firdaus tidak pernah dengan serius mencintai seorang lelaki pun. Meski ia pernah punya ‘rasa’ pada pamannya
Sejak kecil Srintil mencintai Rasus. Hanya saja Dukuh Paruk memisahkan keduanya dengan alasan Srintil mendapat indang ronggeng yang dianugerahkan pepunden mereka; Ki Secamenggala.
11.
Alasan melacur
Terdorong faktor memenuhi kebutuhan hidup. Ia juga mempunyai kekecewaan pada laki-laki. Sebagai perempuan, ia mendapatkan ketidakadilan dari lelaki, di dalam peng-‘lihat’-annya, mengapa lelaki lebih tinggi ‘martabatnya’ dibandingkan dengan perempuan.
Awalnya Srintil tidak mengerti apa itu ronggeng, ia hanya tahu bahwa dirinya suka menari. Tetapi Dukuh Paruk mengatakan bahwa ia telah mendapat indang ronggeng dan harus segera ditahbiskan sebagai ronggeng yang benar-benar nyata. Kemiskinan dan kebodohan juga menjadi faktor pendorong ia melacur; memenuhi kebutuhan hidup.

Dari tabel di atas, penulis sertakan kutipan yang mendukung analisis penulis mengenai persamaan dan perbedaan Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) dan Perempuan Di Titik Nol (PDTN) sesuai nomor urut di dalam kolom sebagai berikut:
1.      Cara melepas keperawanan
a)      PDTN     : …Ia menyuruh saya tiduran di atas tumpukan jerami, dan mengangkat galabeya saya. Kami bermain-main menjadi ‘pengantin perempuan dan pengantin laki-laki’. Dari bagian tertentu tubuh saya, di bagian mana saya tidak tahu pasti, timbul suatu perasaan nikmat luat biasa…(hal. 19)
b)      RDP       : …Dan sebuah perilaku primitif memang terjadi kemudian antara aku dan Srintil. Ilusi akan hadirnya Emak saat itu tak muncul di hatiku. Segalanya terjadi. Alam sendiri yang turun tangan mengguruiku dan Srintil boleh jadi Srintil merasakan sesuatu yang menyenangkan. Tetapi entahlah, aku hanya merasa telah memperoleh sebuah pengalaman yang aneh (hal. 76).
2.      Cara yang digunakan untuk melacur (menjajakan diri)
a)      PDTN     : Ketika saya telah tiba pada salah satu jalan utama, hujan masih tetap turun di atas kepala saya(hal 90-91) Kemudian seorang lelaki ke luar dan dengan cepatnya memutari mobil, membuka pintu pada sisi dekat saya, sambil membungkuk sedikit kemudian dengan sangat sopan berkata: “Silakan masuk ke dalam supaya tidak kehujanan(hal. 91)
b)      RDP       : …Srintil merasa sedang mnari di hadapan satu orang…(hal. 216, par. 3) …Tepat ketika tangan Waras menempel di pipi Srintil, mulut Sakum meruncing: “ciusssss” (hal. 216, par. 4).
3.      Perantara pelacur (germo/mucikari)
a)      PDTN     : Menjadi orang baru di tangan Sharifa. Dia membuka mata saya menghadapi kehidupan, menghadapi peristiwa-peristiwa di masa lalu, dalam masa kecil saya, yang tetap tersembunyi bagi pikiran saya (hal. 78-79).
b)      RDP       : Sementara itu suami-istri Kartareja adalah dukun ronggeng. Merekalah yang paling banyak tahu segala tetek-bengek dunia peronggengan dan mereka menggunakan pengetahuan serta statusnya sebagai dasar mata pencaharian. Dari ongkos pentas mereka mengambil bagian yang kadang-kadang lebih besar daripada bagian yang diterima Srintil. Dan keuntungan lebih besar lagi diterima oleh suami-istri Kartareja manakala mereka sebagai mucikari. Seorang laki-laki yang mabuk kepayang terhadap Srintil dan ingin tidur bersamanya barang satu-dua malam harus melalui perantara Nyai Kartareja…(hal. 140)
4.      Seting sosial budaya dan agama
a)      PDTN     : Setiap Jumat pagi ia akan mengenakan sebuah galabeya yang bersih san menuju mesjid untuk menghadiri shalat berjemaah mingguan(hal. 17).
b)      RDP       : …Dukuh Paruk hanya lengkap bila di sana ada keramat Ki Secamenggala, ada seloroh cabul, ada sumpah-serapah, dan ada ronggeng bersama perangkat calungnya…(hal. 15).
5.      Penokohan
a)      PDTN     : …Saya selalu merawat rambut saya di tempat penata rambut yang biasanya melayani para wanita dari kalangan atas masyarakat. Warna lipstick yang saya pilih selalu yang ‘alamiah dan serius’ sedemikian rupa sehingga tidak menyembunyikan ataupun menitikberatkan daya tarik yang menggiurkan dari bibir saya. Garis-garis yang dibuat dengan keahlian cermat sekitar mata saya memperlihatkan suatu kombinasi tepat dari daya tarik dan penolakan, yang biasa disukai para isteri kaum pria berkedudukan tinggi dari kalangan penguasa(hal. 17)
b)      RDP       : Lima atau enam bulan sejak kepulangannya dari keterasingan mata Srintil mulai hidup, kulitnya mulai hidup, dan wajahnya mulai hidup…(hal. 284).
6.      Puncak konflik yang merubah kehidupan tokoh
a)      PDTN     : …Saya angkat pisau itu dan menancapkannya dalam-dalam di lehernya, lalu mencabutnya kembali, dan menusukkannya dalam-dalam ke dadanya, emncabutnya ke luar dan menusukkannya ke perutnya. Saya tusukkan pisau itu ke hampir semua tubuhnya(hal. 139).
b)      RDP       : …Dini hari ketika langit timur berhias kejayaan lintang kemukus, Dukuh Paruk menyala, menyala. Api menggunung membakar Dikuh Paruk…(hal. 242).
7.      Konsekuensi yang diterima tokoh
a)      PDTN     : Dokter penjara, seorang laki-laki, menceritakan kepada saya bahwa wanita ini telah dijatuhi hukuman mati karena telah membunuh seorang laki-laki(hal. 3)Mereka mengenakan borgol baja pada pergelangan tangan saya, dan membawa saya ke penjara. Dalam penjara mereka memasukkan saya ke dalam sebuah kamar yang pintu dan jendelanya selalu tertutup(hal. 146).
b)      RDP       : …Srintil kami papah masuk, langsung ke bangsal perawatan penyakit jiwa…(hal. 402).
8.      Ukuran kewibawaan
a)      PDTN     : Saya bertahan dan berkata “Tidak” … (hal. 142). “Kau tidak dapat membayar hargaku, terlalu tinggi(hal. 143).
b)      RDP       :
 “Jadi sampean sekarang tidak meronggeng lagi?”
“Tidak.”
“Ah, kenapa?”
“Tidak. Tidak.”
“ya, tetapi mengapa?”
“Pokoknya tidak” (hal. 317)
Ti..dak. kata-kata itu berulang-ulang dalam hati Tamir. Tidak. Menurut pengalaman anak Jakarta itu, bila perempuan sudah berkata tidak, dan hanya tidak, maka susah…(hal. 318).
9.      Penyesalan tokoh
a)      PDTN     : …Saya tahu sekarang bahwa kita semua adalah pelacur yang menjual diri dengan bermacam-macam harga, dan bahwa seorang pelacur yang mahal jauh lebih baik daripada seorang pelacur yang murahan. Saya pun tahu, bahwa apabila saya kehilangan pekerjaan, apa yang hilang itu hanyalah gaji iyang kecilnya menyebalkan, hukuman yang sanksiny saya dapat baca tiap hari(hal. 110-111).
b)      RDP       : “Oalah, Nyai. Mereka tidak salah. Semua orang tidak salah. Akulah tempat segala kesalahan hidup. Jadi akulah yang harus tahu diri. Semua orang menuntut aku tidak banyak tingkah karena hal itu tidak mereka sukai. Berbuat sesuatu yang tidak mereka sukai samalah artinya dengan melakukan kesalahan. Nyai tahu apa yang akan kutanggung bila aku dianggap kembali berbuat salah?” (hal. 288)


10.  Percintaan
a)      PDTN     : Menyadari kenyataan bahwa sebenarnya saya membenci lelaki, tetapi bertahun-tahun lamanya telah menyembunyikan rahasia ini dengan sangat hati-hati. Lelaki yang paling saya benci adalah mereka yang berusaha menasihati atau yang berkata kepada saya bahwa mereka ingin menyelamatkan saya dari kehidupan yang saya jalani(hal. 128-129).
b)      RDP       : …Mereka hanya tahu Srintil jatuh hati kepada Rasus dan bertepuk  sebelah tangan…(hal. 141).
11.  Alasan melacur
a)      PDTN     : …Saya tidak mau kembali kepada kehidupann yang lalu bagaimanapun beratnya siksaan dan penderitaan yang harus saya alami, sekalipun saya tahu lapar dingin, serta kemelaratan luar biasa(hal. 105).
b)      RDP       : …Kehidupan di sana terpelihara secara lestari karena kebodohan dan kemalasan penghuninya. Mereka puas hanya menjadi buruh tani. Atau berladang singkong kecil-kecilan. Bila ada sedikit panen, minuman keras memasuki setiap pintu rumah. Suara calung dan tembang ronggeng meninabobokan Dukuh Paruk…(hal. 86).

***

Kedua novel ini mempunyai alur yang sama-sama flashback. Pengarang menampilkan sosok ke-akua-an yang kental. Di awal cerita ‘aku’ memaparkan pengalamannya dengan tokoh sentral, kemudian ‘aku’ menceritakan kehidupan tokoh sentral dan pada akhir cerita ‘aku’ menutup ceritanya dengan kesimpulan apa yang akan dilakukannya, serta tokoh ‘aku’ mengenang apa yang telah terjadi dengan kehidupan tokoh sentral.



Misalnya saja Rasus yang mengenang kejadian masa lalu mengenai keronggengan Srintil. Kemudian ia meyadari ‘lamunan’nya tersebut dan bertindak sesuai dengan masa kini. Tetapi Rasus tetap saja memaparkan slide-slide ingatannya itu sebagai suatu ingatan dalam kenangan. Cerita yang dibagi untuk semua orang yang ingin mendengarkan ceritanya. Seperti pendongeng yang sedang berdongeng.
Tokoh ‘aku’ yang berprofesi sebagai dokter pun sama seperti Rasus. Ia menceritakan kejadian yang dialami oleh seorang narapidana mati bernama Firdaus. Suatu kejadian yang ditemui dan dialaminya itu dibagi dan diceritakan kepada setiap orang yang tertarik menikmati lika-liku ceritanya. Penulis menyimpulkan bahwa kedua novel tersebut dapat juga dikatakan sebagai novel yang ingin ‘berbicara’ kepada banyak orang mengenai pengalaman dan realitas kehidupan.
Penulis juga mendapatkan ke-aku-an yang digunakan pengarang untuk mempermudah seseorang memahami tokoh dan penokohan serta ‘lakon’ apa yang sedang dimainkan. Hanya saja di beberapa penggal cerita (tapi cukup banyak juga) dijumpai ‘aku’ seperti sedang berada di luar cerita dan berperan sebagai tukang dongeng saja, seakan tidak terlibat di dalam cerita.
Mengenai teknik penceritaan, Ahmad Tohari dan Nawal el-Saadawi cenderung ke arah deskriptif-naratif. Hanya saja Ahmad Tohari lebih bernuansa pedesaan yang khas, yang lebih dekat akan suasana alam dan kehidupan tradisionalnya; termasuk kepelacuran yang berada di dalamnya. Sedangkan Nawal el-Saadawi banyak sekali mengungkap segi-segi pribadi personal maupun sosial mengenai pelacur itu sendiri.
Penulis juga melakukan analisa bahwa kedua novel ini dengan halus (meski kadang bahasanya lugas) sekali mengungkapkan kebanyakan hidup dan kehidupan perempuan di muka bumi seperti berikut:
a)      Adanya kekerasan terhadap perempuan di muka bumi datang dari lelaki
b)      Kerasnya kehidupan pelacur menghadapi kebutuhan ekonomi dan ‘berhubungan’ dengan dunia politik, sosial, budaya masyarakat serta hokum/norma yang berlaku di masyarakat
c)      Patrilinel yang ternyata telah menciptakan dunia kepelacuran. Karena kehidupan patriarki banyak mengesampingkan hak-hak perempuan sehingga terciptalah ketidakadilan yang banyak dialami pihak perempuan
d)      Hegemoni lelaki terhadap perempuan yang selama ini tidak disadari (karena sudah merupakan kebiasaan yang ‘dekat’ sekali dengan kehidupan sehari-hari) dan tidak ada yang begitu berani menentang serta merombaknya.
e)      Kebobrokan moral bertameng moralitas yang luhur, yang biasanya berlindung di bawah agama dan kepercayaan. Budaya dan religi masyarakat ternyata (dan pada kehidupan real-nya) yang menjadi tameng seseorang untuk mendapatkan apa yang dikehendaki; seperti keudukan yang lebih tinggi dari seorang lelaki terhadap perempuan (sering memanfaatkan dalil untuk mengintimidasi hak perempuan). Hal ini pula yang juga menjadi ‘tangan’ pembuat adanya dunia prostitusi.
f)       Akar dari ‘kegagalan’ dalam hidup terutama karena faktor kemiskinan dan kebodohan.

End















Kiranya terlalu dini jika kita menyimpulkan salah atau benar dengan apa dan siapa yang disebut pelacur itu.
Kenapa kita kebanyakan bahkan mungkin selalu beranggapan bahwa pelacur/orang yang melacur itu salah?
Apa lantaran mereka merusak rumah tangga orang?
Saya tidak menyalahkan atau mendukung pelacur, karena di dalam agama dijelaskan barangsiapa yang berzina maka ia berdosa (dan saya tidak bisa mengingkari bahwa pelacur itu berzina). Maski begitu saya tidak mempunyai hak memvonis salah atau benar.
Tapi yang menjadi pertanyaan saya: apakah hanya pelacur saja yang berzina?
Apakah seseorang, misalnya istri Sekdes berzina (kerapkali kita menyebutnya selingkuh) dengan kades bisa disebut pelacur?
Apakah pelacur identik dengan berhubungan seks dengan banyak lelaki?
Saya sama sekali tidak membenarkan perebut suami orang dan ayah bagi anak-anaknya (meski ia terpelajar/kaya dsb), tetapi apakah seorang pelacur (yang biasanya diidentikkan perusak RT orang) saja yang harus bertanggungjawab untuk itu semua?
Lalu sebutan apa yang kita gunakan untuk diri seseorang yang berkali-kali berhubungan badan dengan seorang lelaki (dengan alasan cinta atau sayang) dan mungkin dengan lelaki lain lagi dengan alasan yang sama sebelum keduanya menikah? Dan ini banyak sekali terjadi di antara kita, para siswa SMA atau kita sendiri: para mahasiswa (atau bahkan diri kita sendiri secara pribadi).
Bukankah hal itu zina?
Kalau dikatakan itu hak asasi, maka pelacur pun punya hak asasi yang sama sebagai manusia (laiknya kita). Lalu kenapa kita menyebut pelacur pada mereka padahal diri sendiri yang berzina tidak mau disebut pelacur?
Di sinilah kiranya kita diuji dalam menahan diri, bertoleransi, dan tidak menganggap bahwa diri sendiri lebih dari mereka.
Kalau pelacur harga dirinya ditentukan oleh apa dan seberapa ia dibayar, lalu apa yang menjadi ukuran harga diri seseorang yang berhubungan seks dengan lelaki (dengan alasan cinta atau suka sama suka) sebelum keduanya menikah?
Lalu kenapa pelacur sepertinya hanya diperuntukkan bagi seorang perempuan?
Lalu laki-laki yang suka melayani tante-tante kesepian sebutan apa yang patut untuk mereka? Gigolo? Ah, terlalu sederhana dan tidak semenyakitkan ketika perempuan disebut pelacur, lonte, atau gembrik!

No comments:

Post a Comment