About

BAB II Kajian Pustaka


2.1 KAJIAN PUSTAKA
Kajian pustaka menyajikan penelitian-penelitian terdahulu yang relevan dengan topik penelitian, penelitian-penelitian tersebut diantaranya, Aryanto (2003), Prabawani (2005), Fatimah (2008), Andini (2010), Novita Sari (2012), dapat diuraikan sebagai berikut.
Penelitian dengan judul “ Aspek Moral dalam Kumpulan Cerpen Sayap Anjing karya Triyanto Triwikromo : Tinjauan Semiotik”, yang dilakukan oleh Aryanto (2003) di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hasil penelitiannya meliputi (1) Perilaku kekerasan anak disebabkan kekurangan perhatian orang tua terhadap anak dalam menonton tayangan kekerasan di televisi, (2) Perbuatan manusia yang meliputi batas adat  atau tradisi akan mendapat kesengsaraan, (3) Kesabaran dalam menghadapi  musibah, (4) Krisis kemanusiaan, (5) Tindakan manusia yang memaksakan kehendak akan menyebabkan penderitaan, (6) Krisis kepedulian sosial. Dalam peneletian ini sangat berbeda dengan penelitian yang dilakukan penulis, selain menggunanakan teori Semiotika juga menggunakan teori Psikologi sastra. Dan dilihat dari hasilnya lebih menekankan dari segi psikologis, sedangkan untuk segi kesamaan antara penelitian yang berjudul Aspek Moral dalam Kumpulan Cerpen Sayap Anjing karya Triyanto Triwikromo dengan penelitian Kesesuaian makna gambar ilustrasi dengan makna teks cerpen yaitu keduanya menggunakan teori Semiotika yang memanfaatkan tanda-tanda untuk mengindentifikasi sesuatu yang terdapat dalam karya sastra.
Penelitian dengan judul “ Aspek Moral dalam Cerita Banjaran Karna Versi Ki Nartosabdo : Analisis Semiotik”, yang dilakukan oleh Prabawani (2005) di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hasil penelitiannya adalah aspek moral dalam Cerita Banjaran Karna Versi Ki Nartosabdo meliputi aspek sikap ksatria Bawalaksana (Sabdo Pandeta Ratu), aspek kesetian, aspek nasionalisme dan patriotisme. Aspek sikap ksatria Bawalaksana (Sabdo Pandeta Ratau) dicerminkan sikap Karna pada saat ditemui Prabu Kresna tentang keberpihakannya apabila terjadi perang Bharatayudha, Karna menjawab dengan tegas akan tetap memihak pada Kurawa, bahkan berharap Bharatayudha harus terjadi. Dalam aspek kesetian digambarkan sikap Karna dalam menjujung tinggi aturan atau hukum.  Aspek nasionalisme dan patriotisme yaitu pada sikap lahiriah Karna tanpa ragu untuk tetap memihak dan menyatu dengan para Kurawa, meskipun batinnya tetap memihak Pandawa.
Dilihat dari hasil penelitian yang menganalisis dari segi tokoh dan amanat yang hendak disampaikan oleh pembaca, sehingga apabila disamakan dengan penulis lakukan yaitu memiliki kesamaan yaitu menggunakan pendekatannya dengan teori semiotika, sedangkan perbedaannya yaitu dalam penelitian yang dilakukan Prabawani lebih kehasil setelah membaca yaitu aspek moral yang hendak disampaikan pengarang sedangkan dalam penelitian ini penulis menekankan apakah antara teks cerita cerpen dengan gambar ilustrasi pada cerpen bisa saling menerangkan atau koheren.
Fatimah  (2008)  Relasi Gambar Ilustrasi dengan Teks Puisi Didalam Kumpulan Puisi Air Kata-kata Sindhunatha memaparkan  bahwa terdapat relasi antara gambar ilustrasi dengan teks puisi di dalam kumpulan puisi Air Kata Kata karya Sindhunata. Relasi (hubungan) atau pertalian (timbal balik) antara gambar ilustrasi dengan teks puisi merupakan relasi yang bersifat perlambang atau simbolis (hubungan kemaknaan). Hubungan kemaknaan (relasi simbolis) dapat ditunjukkan oleh keterikatan dan keterkaitan simbol-simbol yang muncul di antara keduanya (baik gambar maupun teks puisi). Relasi simbolis tersebut sekaligus dapat menunjukkan fungsi gambar ilustrasi di dalam teks puisi melalui keterikatan dan keterkaitan keduanya. Dapat diketahui bahwa gambar ilustrasi selain digunakan sebagai viasualisasi data masing-masing individu dan budaya secara keseluruhan membuat pikiran-beberapa di antaranya dengan sadar, beberapa yang lain tanpa disadari-mengenai aspek-aspek dari pengalaman suatu fenomena yang dapat atau yang harus diungkapkan, kaitannya dengan puisi, juga dapat berfungsi sebagai visualisasi teks puisi, media mempermudah pemahaman (pembaca) terhadap puisi, dan dapat digunakan sebagai stimulasi (yang berguna untuk menarik/merangsang) minat baca seseorang terhadap karya sastra, khususnya puisi.
Penelitian yang dilakukan Fatimah dengan penelitian yang akan dilakukan penulis, dapat dikatakan bahwa sama, dari hubungan pertalian antara gambar ilustrasi dengan teks puisi, akan tetapi hal yang mebedakan dari keduanya yaitu objek. Pada umumnya teori ini hanya sering dilakukan dengan objek kajiannya puisi, namun dalam hal ini penulis menjadikan cerpen sebagai objek yang hendak diteliti.
Penelitian yang berjudul Analisis Syair Kembang dan Melati yang dilakukan Sherli Andini Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang (2010), memaparkan hasil yaitu dalam penelitian ini dapat dikategorikan ke dalam naskah berjenis fabel, dapat dilihat melaui cara penceritaannya yang berbentuk syair prosa romantik karena penokohan dalan teks diperankan oleh binatang khususnya tokoh Kumbang sebagai laki-laki dan Melati sebagai perempuan. Kemudian terdapat beberapa teladan dari kandungan teks yang dapat diambil dan dilakukan oleh manusia sebagai mahluk sosial dalam bersosialisasi.
Teks SKM dianalisis menggunakan teori semiotik Pendekatan semiotik yang akan dipakai adalah semiotik model Michael Riffaterre, bahwa dalam memahami makna harus diawali dengan pembacaan semiotik yaitu pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik. Pada tahap pembacaan semiotika tingkat pertama (heuristik) membuahkan sebuah heterogenitas yang takgramatikal, tidak padu, tidak ada kepaduan antara baris demi baris atau larik demi larik. Akan tetapi, setelah diadakan pembacaan yang lebih jauh melalui pembacaan semiotika tingkat kedua (hermeneutik) diperoleh sebuah makna yang padu tentang isi, dan tujuan dari setiap pembacaan teks SKM
Secara keseluruhan, makna yag terkandung dalam teks SKM  adalah sikap rendah diri, gambaran seorang lelaki yang disimbolkan oleh Kumbang, gambaran perempuan yang disimbolkan oleh Melati, sikap jatuh cinta kepada lawan jenis (kasmaran), sifat pemalu, menjalankan amanah, serta nasehat.
Penelitian-penelitian diatas dapat menjadi bahan acuan untuk meneliti tentang ”Kesesuaian Makna Antara Gambar Ilustrasi dengan Cerpen” agar menghasilkan sebuah hasil yang bisa dibanggakan.
Dari penelitian ini yang mempunyai kesamaan dengan penulis lakukan yaitu sama-sama menggunakan teori semiotika, akan tetapi ada hal yang membedakan dari kedua penelitian itu yaitu SKM hanya melihat tanda didalam teksnya, tanpa melibatkan karya sastra lain didalamnya, akan tetapi dalam penelitian yang berjudul Kesesuaian Makna Gambar Ilustrasi dengan Makna Teks Cerpen, menggabungkan dua karya sastra, apakah dari keduanya saling menerangkan satu sama lain dan dapat dikatakan koheren. Hal ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi tanda-tanda dalam gambar ilustrasi dan mengidentifikasi tanda-tanda didalam teks cerpen.
Penelitian yang berjudul “ Analisis Struktural Semiotik Cerpen “Shurohul Qubur” Karya Jubran Kholil jibran, yang dilakukan Novitasari Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang (2012), hasil penelitiannya adalah dari segi struktural yaitu :(1)Tema dalam cerpen ini tentang ketidakdilan seorang raja, (2) plot yang digunakan adalah plot maju mundur dan dapat disimpulkan bahwa plot dalam cerpen ini lengkap karena terdiri dari tiga tahap yaitu tahap penghukuman, tahap kejadian masalah, dan tahap penyelesaian, (3) tokoh dan penokohan. Dalam cerpen SQ ini terdapat tokoh utama yang diperankan oleh “aku”, tokoh tambahan yang diperankan oleh raja, menteri, dan prajurit, tokoh amdalan yang diperankan oleh si pembunuh, pezina, dan pencuri, tokoh figuran yang diperankan oleh tunangan si pembunuh, pemudah berjubah, istri si pencuri, suami si pezina, dan pendeta, (4) Setting dalam cerpen SQ ini istana, ruang pengadilan, penjara, kota, ujung lembah, biara, dan kebun atau ladang, (5) Sudut pandang dalam cerpen SQ ini adalah “aku” sebagai sudut pandang person pertama atau tokoh utama (6) gaya bahasa yang dipakai dalam cerpen SQ ini adalah dengan menggunakan kajian balagahah yang menggunakan unsur majaz. (7) amanat dalam cerpen SQ ini adalah para pemimpin hendaknya jangan semena-mena dalam menjatuhkan hukuman tanpa didasari kejelasan dan kejadian yang sebenarnya.
Dalam penelitian ini kalau dibandingkan dengan penelitian yang penulis akan lakukan yaitu sama-sama menggunakan pendekatan dengan teori semiotika sedangkan perbedaannya yaitu dalam penilitian diatas lebih menekan pada kajian strukturalisme sedangkan penulis lebih menekankan antara teks cerpen dengan gambar ilustrasi pada cerpen bisa saling menerangkan atau bisa dikatakan koheren



2.1    Landasan Teoretis
Teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu meliputi hakikat cerpen, definisi gambar ilustrasi, fungsi gambar ilustrasi, dan hakikat semiotika.
2.2.1 Hakikat Cerpen
Cerpen memiliki banyak makna, hal ini sudah penulis kumpulkan menjadi satu, data ini diperoleh dari berbagai sumber mengenai hakikat cerpen, diantaranya seperti KBBI 2004, Cerpen merupakan cerita pendek, sedangkan Hendy 1991: 184 mengatakan bahwa Cerpen merupakan cerita pendek yang mengandung kisah tunggal.
J. S. Badudu 1975: 53, menuturkan bahwa Cerpen merupakan cerita yang menjurus dan konsentrasi berpusat pada satu peristiwa, yaitu peristiwa yang menumbuhkan peristiwa itu sendiri, lain halnya dengan, Nugroho Notosusanto 1984: 176, yang mengartikan cerpen adalah sebuah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira - kira 17 halaman kuarto spasi rangkap, yang berpusat dan lengkap pada dirinya sendiri
2.2.2 Definisi Gambar Ilustrasi
Menurut Sanyoto (dalam Subrata 1994:7) gambar adalah tiruan yang menyerupai suatu wujud (orang, binatang, alam, tumbuh-tumbuhan) yang dibuat dengan alat-alat gambar. Hal ini dapat dipahami sebab menggambar merupakan suatu kegiatan berekspresi yang tidak sekadar menorehkan garis dan warna pada permukaan bidang dwimatra (dua dimensi) melainkan sebagai keinginan menuangkan dorongan hati.
Gambar (Simon 2004:1) merupakan sesuatu yang erat dan alami, yang ada hubungan dengan salah satu keinginan manusia. Melalui gambar manusia ingin mengekspresikan diri, pola pikir, dan emosi-emosinya. Gambar sebagai bentuk pernyataan isi jiwa yang tidak dapat diabaikan.  Menggambar pada hakikatnya menuangkan bayangan yang dimunculkan benak seseorang sebagai pengungkapan kembali sesuatu yang pernah dikenal sebelumnya. Atau juga hasil pengamatan seketika terhadap objek yang dihadapi (Sumarna 2003:7).
Pengertian gambar dalam bentuk skets harap dibedakan dengan sketsa atau skets. Skets dalam arti langkah awal corat-coret sebelum gambar itu disempurnakan, yaitu coretan-coretan berupa garis besar untuk membentuk apa yang kita gambar. Sementara itu, gambar sketsa adalah coretan gambar yang sudah jadi dalam bentuk coretan garis (Sumarna 2003:65).
Menurut Garha (1980:21) menggambar dibedakan menjadi lima jenis, yaitu: (1) menggambar bentuk, (2) menggambar ilustratif, (3) menggambar konstruktif, (4) menggambar dekoratif, dan (5) menggambar ekspresif.
Menggambar bentuk adalah menggambarkan bentuk model tunggal maupun model ganda. Dalam menggambar bentuk model langsung menggunakan alat peraga. Misalnya vas bunga, gelas, botol, cangkir, dan sebagainya. Alat peraga tersebut diletakkan di depan kelas atau di atas meja. Kemudian seseorang menggambar objek tersebut dari sudut pandang yang berbeda-beda.
Menggambar ilustratif adalah gambaran yang sifatnya menjelaskan atau merupakan suatu visualisasi dari suatu cerita.
Menggambar konstruktif adalah menggambar yang menjelaskan tentang bentuk konstruksi atau cara bagian-bagian komponen yang membangun suatu benda.
Menggambar dekoratif adalah menggambar bentuk alam yang distilir. Pengertian stilir adalah mengekspresikan sesuatu menjadi bentuk baru tanpa meninggalkan bentuk dasar.
Menggambar ekspresif adalah menggambar dengan memberi kelonggaran pada gerak ekspresi penikmatnya atau curahan hati seseorang.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ilustrasi ialah gambar (lukisan, foto) untuk memperjelas isi buku, karangan dan sebagainya; gambar, desain, atau diagram untuk penghias (halaman sampul dan sebagainya); penjelasan tambahan berupa contoh, bandingan, dan sebagainya untuk lebih memperjelas paparan (tulisan dan sebagainya) (KBBI 2003:425).  Apabila memperhatikan gambar-gambar ilustrasi yang dijumpai pada media cetak, umumnya gambar-gambar itu menampilkan coretan-coretan yang teliti, halus dan mendetail. Walau ada juga di dalam bentuk sketsa-sketsa, vignet (bentuk hiasan dalam seni grafika dan arsitektur yang diambil dari bentuk tumbuhan merambat, daun, dan sebagainya atau goresan potret kecil pada bidang tepi sekeliling halaman buku), ataupun bentuk kartun (Sumarna, 2003:55).
Jadi, gambar ilustrasi adalah gambaran yang sifatnya menjelaskan atau merupakan suatu visualisasi dari suatu cerita, untuk memperjelas isi buku, karangan, penghias halaman sampul, dan sebagainya yang bertujuan untuk menjelaskan dan merangsang daya tarik bagi si pembaca serta memvisualkan tulisan (setting atau cerita) pada bagian tertentu.

2.2.3 Fungsi Gambar Ilustrasi
Ilustrasi sering dipakai pada banyak tulisan. Misalnya untuk pengetahuan umum, cerita fiktif, atau brosur-brosur dan tulisan lainnya. Coretan gambarnya dibuat untuk menjelaskan dan merangsang daya tarik bagi si pembaca serta memvisualkan tulisan pada bagian tertentu. Ilustrasi ini membuat menarik setting atau cerita (Sumarna 2003:56).
Di Indonesia, terutama pada masa Hindia-Belanda ilustrasi berperan penting dalam tulisan dan iklan di media cetak. Perannya menegaskan isi tulisan karena umumnya eksak, seperti objek. Bila dalam gambar ilustrasi menggambar itu hanya menuangkan beberapa pilihan setting cerita atau menggambarkan judul saja, maka pada komik (dibandingkan dengan komik sebagai bahan pembeda saja), kumpulan ilustrasi itu menampilkan kumpulan gambar dalam suatu alur cerita dari awal hingga akhir. Sehingga komik ini diterjemahkan sebagai cergam (cerita bergambar). Cerita sejak awal sampul buku hingga halaman terakhir dituangkan dalam bentuk kumpulan gambar. Antara gambar pertama terus kait mengait satu dengan lainnya, bagai untaian rantai sambung menyambung (Sumarna 2003:149).
Menggambar ilustratif akhirnya lebih diarahkan kepada pembentukan gambar bertema atau gambar adegan yang menggambarkan bagian dari suatu peristiwa.  Fungsi utama gambar ilustratif ialah memberi kejelasan kepada suatu pernyataan yang disampaikan secara tertulis. Sehubungan dengan fungsinya untuk memberi kejelasan, maka pembuatan gambar yang demikian memang memerlukan persyaratan yang lebih banyak daripada gambar-gambar yang pernah dibuat (Garha 1982:30).
Pertama-tama agar tema atau adegan yang ditampilkan pada gambar cukup jelas, maka harus mampu menampilkan suasana pada gambar-gambar yang dibuat. Secara teknis bentuk dan jenis goresannya menggugah suasana yang menyaran (sugestif) (Garha 1982:30).
Sekalipun kumpulan goresan pada gambar tidak menunjukkan suatu tema, namun bentuknya serta arah goresannya memberi pengaruh khusus kepada penikmatnya. Karena mempunyai pengaruh demikian, maka arah goresan dan arah bentuknya dapat dianut untuk menguatkan suasana gambar yang dibuat (Garha 1982:30).
Secara perasaan tema yang akan ditampilkan dalam gambar harus benar-benar dihayati. Sebaiknya demikian kuat penghayatannya sehingga seakan-akan terlibat dalam tema yang akan digambarkan. Umpamanya seakan-akan merasa menjadi salah satu tokoh dari tema yang akan ditampilkan dalam bentuk gambar (Garha 1982:30-31).
Bentuk ungkapan menggambar ilustratif sebaiknya berupa suatu ungkapan baik secara tertulis maupun secara lisan yang merupakan petikan dari sebuah lakon atau cerita (Garha 1982: 30-31). Untuk bisa menggambar, harus bisa merasakan. Pendekatan dengan cara perasaan ini sudah tidak merupakan hal baru lagi dalam soal gambar-menggambar (Simon 2004:3).
Telah ada suatu waktu, bahwa tiap-tiap penggambar atau tukang gambar dalam mengerjakannya menurut perasaan dan pemandangannya sendiri. Untuk dapat membaca suatu gambar atau dengan perkataan lain, untuk dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh tukang gambar, orang harus faham tentang cara menggambar dari tiap-tiap tukang gambar (Heij Dan dan Bruijn 1999:1).
Oleh karena gambar-gambar itu kebanyakan hanya berputar dalam lingkungan ruangan kecil saja maka pembaca bisa mendapatkan pelajaran tentang tanda-tanda istimewa dalam cara berfikir oleh tiap-tiap tukang gambar atau perupa (Heij Dan dan Bruijn 1999:1).
Melalui pengamatan terus-menerus kita mengumpulkan data dari pengalaman tersebut yang kemudian dimanipulasi dan diproses otak kita untuk membentuk pengertian atau persepsi mengenai dunia visual (Montague 2001:1). Kesan mental dunia visual ini tidak akan pernah dapat dibuat dan korespondensi satu-satu yang tepat dengan apa yang dialami.
Persepsi bersifat menyeluruh; terbentuk dari semua informasi yang dimiliki sehubungan dengan fenomena tidak sekedar penampilan visual dari pandangan tertentu saja. Ketika memandang sebuah objek atau pemandangan dirasakan salah satu informasi persepsi ini sekaligus warna, asosiasi nilai-nilai simbolis, bentuk dasar dan makna yang tak terbatas.
Jadi, persepsi mengenai bahkan terhadap objek yang sederhana seperti sebuah meja tidak mungkin diungkapkan dengan lengkap, ekspresi pengalaman pembaca pasti terbatas dan parsial yang berarti berhubungan atau merupakan bagian dari keseluruhan. Pikiran kita mengenai sesuatu yang akan diungkapkan sangat dipengaruhi oleh berbagai batasan baik yang ditentukan secara sadar maupun yang ditentukan oleh budaya pembaca (Montague 2001:2).
Dalam mengungkapkan data visual masing-masing individu dan budaya secara keseluruhan membuat pikiran beberapa di antaranya dengan sadar, beberapa yang lain tanpa disadari mengenai aspek-aspek dari pengalaman suatu fenomena yang dapat atau yang harus diungkapkan (Montague 2001:3).
Para pekria selalu menggunakan gambar untuk membantu mengeluarkan gagasannya jika harus membuat perubahan dalam proses yang sinambung tentang pemasangan berbagai pekerjaan (Laseau 1986:5a). Hal ini menunjukkan bahwa gambar merupakan hasil ide atau gagasan (pemikiran) untuk memenuhi kebutuhan hidup seseorang di dalam kehidupannya.
Foerster (dalam Laseau 1986:7) menyatakan bahwa “…bahasa gambar (entah untuk ilustrasi maupun dunia arsitektur) merupakan bahasa tersirat karena maksudnya untuk memulai penafsiran”. Ruang arsitektur tercipta melahirkan daya cipta, wawasan baru dan pikiran baru. Ruang seperti itu merupakan katalisator bagi pikiran. Demikian pula di bidang gambar ilustrasi. Ilustrasi saat ini adalah representasi fantasi dari objek yang melalui gambar maupun tulisan di dalamnya, mengiringi maupun menggiring pembaca pada imajinasi yang jauh lebih bebas dibandingkan dengan fotografi. Menjelang abad ke dua puluh satu (ke-21) kesanggupan komunikasi rupanya diuji. Dua perkara yang terpenting yang kita hadapi ialah banjir informasi yang harus kita serap dan meningkatnya kait-mengait berbagai persoalan yang harus kita pecahkan (Laseau 1986:6).   
Kini pengertian yang lebih luas tentang cara merancang itu terjadi pada suatu gambar biasanya masih tetap dianggap sebagai hasil sebuah gagasan; tujuannya untuk menjelaskan kepada orang lain hasil pemikiran seseorang, kesimpulan seseorang (Laseau 1986:14). Gambar ilustrasi, hubungannya dengan naskah cerpen, dapat dikatakan sebagai salah satu alternatif yang dapat mewakili makna yang dikandung sebuah kalimat sekaligus dapat menggiring pembaca pada maksud yang ingin disampaikan pengarang melalui karya ciptaannya. Hal ini dianggap penting mengingat adanya sebuah kalimat yang pemahaman dan cara penikmatannya memerlukan pemikiran yang lebih mendalam, serta tidak dapat dipahami maksud dari cerpen tersebut hanya dengan sekali baca.
Dengan begitu dapat diketahui bahwa gambar ilustrasi selain digunakan sebagai viasualisasi data masing-masing individu dan budaya secara keseluruhan membuat pikiran beberapa di antaranya dengan sadar, beberapa yang lain tanpa disadari mengenai aspek-aspek dari pengalaman suatu fenomena yang dapat atau yang harus diungkapkan, kaitannya dengan cerpen, juga dapat berfungsi sebagai visualisasi teks naskah cerpen, media mempermudah pemahaman (pembaca) terhadap, membantu penafsiran atau interpretasi pembaca (gambar dapat membantu pembaca dalam hal memahami maksud yang ingin disampaikan pengarang melalui karyanya), dan dapat digunakan sebagai stimulasi (yang berguna untuk menarik/merangsang) minat baca seseorang terhadap karya sastra.

2.2.4 Teori Semiotika
Semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dalam kehidupan manusia, semiotik berasal dari bahasa Yunani semeion, yang berarti tanda, Artinya, semua yang hadir dalam kehidupan kita dilihat sebagai tanda, yakn sesuatu yang harus diberi makna. Perangkat teori yang digunakan untuk mengkaji kebudayaan manusia(Barthes 1957:13). Semiotik mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Ferdinand de Saussure mendefinisikan semiotik sebagai ilmu yang mengkaji tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Secara implisit dalam definisi Saussure ada prinsip bahwa semiotika sangat menyandarkan dirinya pada aturan main (rule) atau kode sosial (social code) yang berlaku di dalam masyarakat sehingga tanda dapat dipahami maknanya secara kolektif. Pada awalnya semiotik merupakan ilmu yang mempelajari setiap sistem tanda yang digunakan dalam masyarakat manusia. Tokoh yang dianggap pendiri semiotik adalah dua orang yang hidup sezaman, yang bekerja secara terpisah dan dalam lapangan yang tidak sama (tidak saling mempengaruhi). Semiotik memandang objek-objek atau laku-laku sebagai parole (laku tuturan) dari suatu langue (bahasa: system linguistic) yang mendasari “tata bahasanya” harus dianalisis, penelitian sastra dalam bentuk semiotik ini peneliti harus menentukan kontras-kontras diantar satuan-satuan yang menghasilkan arti (hubungan hubugan pradigmatik) dan aturan kombinasi yang memungkinkan satuan-satuan itu untuk dikelompokkan bersama –sama sebagai pembentuk-pembentuk struktur makna yang lebih luas (hubungan-hubungan sintagmatik).
Bahasa sebagai medium karya sastra sudah merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti. Sebelum digunakan sebagai media dalam karya sastra, bahasa (kata-kata) sudah merupakan lambang yang mempunyai arti, arti yang ditentukan oleh konvensi masyarakat (sistem semiotik tingkat pertama). Bahasa dalam karya sastra masuk dalam semiotik tingkat kedua (second order semiotics).
Arti bahasa dalam karya sastra ditentukan atau disesuaikan dengan konvensi sastra. Sastra mempunyai konvensi sendiri di samping konvensi bahasa. Pada karya sastra, arti kata-kata (bahasa) ditentukan oleh konvensi sastra. Pradopo (1987:122) membedakan arti bahasa dan arti sastra.
Arti bahasa dengan istilah arti (meaning) dan makna (significant) untuk arti sastra. Meskipun bahasa dalam sastra mempunyai konvensi sendiri, seorang sastrawan/penyair dalam membentuk sistem dan makna dalam karya sastranya harus mempertimbangkan juga konvensi bahasa. Jika konvensi bahasa sama sekali ditinggalkan, karyanya akan sulit dimengerti oleh pembaca.
Menganalisis karya sastra berdasarkan teori semiotik harus dimulai dengan menentukan konvensi-konvensi yang dapat menunjukkan tanda-tanda atau struktur tanda dalam karya sastra itu mempunyai makna. Hal tersebut disebabkan oleh adanya tanda-tanda yang tidak begitu saja muncul, tetapi berdasarkan konvensi masyarakat penutur bahasa.
Sekali lagi disampaikan bahwa tanda-tanda itu mempunyai arti atau makna disebabkan oleh konvensi masyarakat. Konsepsi semiotik pada intinya adalah memahami sepenuhnya karya sastra sebagai struktur. Keterikatan struktur memperlihatkan ciri khas struktur sebagai sistem tanda yang bermakna.

2.2.4.1  Tanda, Penanda dan Ditandai
Secara garis besar dalam teori semiotik semua orang dapat membedakan teori tentang tanda yang bersifat dikotomis dan trikotomis (atau diadik dan triadik). Ferdinand de saussure menjelaskan “tanda” sebagai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari dua bidang seperti halnya selembar kertas, yaitu bidang penanda (signifier) untuk menjelaskan bentuk atau ekspresi dan bidang petanda (signified) untuk menjelaskan konsep atau makna. Saussure meletakkan tanda dalam konteks komunikasi manusia dengan pemilahan antara penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda wujud materi tanda tersebut. Petanda adalah konsep yang diwakili oleh penanda yaitu artinya. Contohnya, kata ‘ayah’ merupakan tanda berupa satuan bunyi yang menandai arti ‘orang tua laki-laki’. Berkaitan dengan proses pertandaan seperti di atas, Saussure menekankan perlunya semacam konvensi sosial (social convention) di kalangan komunitas bahasa, yang mengatur makna sebuah tanda. Satu kata mempunyai makna tertentu disebabkan adanya kesepakatan sosial di antara komunitas pengguna bahasa.
Sementara itu, seorang tokoh semiotik lain, Charles Sanders Peirce (1839–1914) mengemukakan pendapatnya mengenai tanda. Menurut Peirce, dalam pengertian tanda terdapat dua prinsip, yaitu penanda (signifier) atau yang menandai dan petanda (signified) atau yang merupakan arti tanda. Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda, tanda terdiri atas tiga jenis. Jenis-jenis tanda tersebut adalah ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda yang memperlihatkan adanya hubungan yang bersifat alami antara penanda dengan petandanya. Hubungan itu adalah hubungan persamaan. Indeks adalah tanda yang menunjukkan hubungan kausal (sebab-akibat) antara penanda dengan petandanya. Simbol adalah tanda yang tidak memiliki hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya, melainkan hubungan yang ada bersifat arbitrer. Ketiga tanda tersebut merupakan peralatan semiotik yang fundamental. Lebih lanjut, Peirce mengemukakan bahwa proses semiosis terjadi karena adanya tiga hal, yaitu ground, representamen, dan interpretan.
Peirce melihat tanda dengan mata rantai tanda yang tumbuh.
Pragmatisme sebagai teori makna menekankan hal-hal yang dapat ditangkap dan mungkin berdasarkan pengalaman subjek. Dasar pemikiran tersebut didasarkan dijabarkan dalam bentuk tripihak (triadic) yakni setiap gejala secara fenomenologis mencakup tiga hal. Pertama, bagaimana sesuatu menggejala tanpa harus mengacu pada sesuatu yang lain (qualisigns, firstness, in-itselfness). Kedua, bagaimana hubungan gejala tersebut dengan penanda + petanda = tanda realitas di luar dirinya yang hadir dalam ruang dan waktu (sinsigns, secondness/overagainstness). Ketiga, bagaimana gejala tersebut dimediasi, direpresentasi, dikomunikasikan, dan “ditandai”.
Barthes (1957) menggunakan teori signifiant-signifie yang dikembangan menjadi teori tentang metabahasa dan konotasi, istilah signifiant menjadi ekspresi dan signifie menjadi isi. Akan tetapi barthes mengatakan bahwa antara ekspresi dengan isi harus ada relasi yang dapat membuat teori tentang tanda yang lebih mungkin berkembang, karena relasi relasi ditetapkan oleh pemakai tanda. Setiap tanda selalu memperoleh pemaknaan awal yang dikenal secara umum denotasi yang disebut sistem primer, sedangkan pengembangannya disebut sistem sukender (Barthes 1957:45).

No comments:

Post a Comment