About

resepsi satra dalam cerpen

I. Pendahuluan
Kritik sastra memiliki peran yang besar dalam perkembangan teori sastra dan salah satu teori tersebut adalah resepsi sastra. Oleh karena itu, resepsi sastra adalah bagian yang tak terpisahkan dari kritik sastra. Kritik sastra sendiri berasal dari bahasa Yunani krites yang berarti hakim. Kata benda krites berasal dari kata kerja krinein yang berarti menghakimi. Kata krinein merupakan pangkal dari kata benda kriterion yang berarti dasar penghakiman. Lalu timbul kata kritikos yang berarti hakim karya sastra (Suyitno, 2009:1).
Dalam kritik sastra dikenal beberapa pendekatan-pendekatan untuk melakukan penelitian karya sastra. Pendekatan-pendekatan itu adalah pendekatan sosiologis, pendekatan psikologis, pendekatan historis, pendekatan antropologis, pendekatan ekspresif, pendekatan mimesis, pendekatan pragmatis dan pendekatan objektif. Selanjutnya, Ratna (2008:71) mengemukakan bahwa pendekatan pragmatislah yang memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Pendekatan ini berhubungan dengan salah satu teori modern yang mengalami perkembangan yang sangat pesat, yaitu teori resepsi sastra.
Menurut Junus (1985:1), resepsi sastra dimaksudkan bagaimana ‘pembaca’ memberikan makna terbadap karya sastra yang dibacanya, sehingga dapat memberikan reaksi atau tanggapan terhadapnya. Tanggapan itu mungkin bersifat pasif.
Bagaimana  seorang pembaca  dapat  memahami  karya  itu, atau  dapat melihat hakikat estetika, yang ada di dalamnya, atau mungkin juga bersifat aktif yaitu bagaimana ia merealisasikannya. Karena itu, pengertian resepsi sastra mempunyai lapanganyang luas, dengan berbagai kemungkinan penggunaan.
Dengan resepsi sastra terjadi suatu perubahan (besar) dalam penelitian sastra, yang berbeda dari kecenderungan yang biasa selama ini. Selama ini tekanan diberikan kepada teks, dan untuk kepentingan teks ini, biasanya untuk pemahaman ‘seorang peneliti’ pergi kepada penulis (teks) (Junus, 1985:1).
Masalah yang dibahas dalam tulisan ini, yaitu apakah resepsi sastra itu dan apakah dasar-dasar teori resepsi sastra serta bagaimanakah penerapan teori resepsi sastra. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan dasar-dasar teori resepsi sastra serta penerapannya.
II. Teori Resepsi Sastra
A. Pengertian Resepsi Sastra
Ratna (2008:165) mengemukakan secara definitif resepsi sastra berasal dari kata recipere (Latin), reception (Inggris) yang berarti sebagai penerimaan atau penyambutan pembaca. Dalam arti luas resepsi didefinisikan sebagai pengolahan teks, cara-cara pemberian makna terhadap karya sehingga dapat memberikan respons terhadapnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Pradopo (2007:206) bahwa resepsi sastra adalah estetika (ilmu keindahan) yang mengacu kepada tanggapan atau resepsi pembaca karya sastra dari waktu ke waktu.
Seltanjutnya, Endaswara (2008:118) mengemukakan bahwa resepsi berarti menerima atau penikmatan karya sastra oleh pembaca. Resepsi merupakan aliran yang meneliti teks sastra dengan bertitik tolak kepada pembaca yang memberi reaksi atau tanggapan terhadap teks itu. Dalam meresepsi sebuah karya sastra bukan hanya makna tunggal, tetapi memiliki makna lain yang akan memperkaya karya sastra itu.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa resepsi sastra merupakan penelitian yang menfokuskan perhatian kepada pembaca, yaitu bagaimana pembaca memberikan makna terhadap karya sastra, sehingga memberikan reaksi terhadap teks tersebut.
B. Dasar-Dasar Teori Resepsi Sastra
Resepsi sastra dapat melahirkan tanggapan, reaksi atau respon terhadap sebuah karya sastra dikemukakan oleh pembaca sejak dulu hingga sekarang akan berbeda-beda antara pembaca yang satu dengan yang lain. Begitu juga dengan tiap periode berbeda dengan periode lainnya. Hal ini disebabkan oleh perbedaan cakrawala harapan (verwachtingshorizon atau horizon of expectation). Cakrawala harapan ini adalah harapan-harapan seorang pembaca terhadap karya sastra (Pradopo, 2007:207).
Cakrawala ini sebagai konsep awal yang dimiliki pembaca terhadap karya sastra ketika ia membaca sebuah karya sastra. Harapan itu adalah karya sastra yang dibacanya sejalan dengan konsep tenatang sastra yang dimiliki pembaca. Oleh karena itu, konsep sastra antara seorang pembaca dengan pembaca lain tentu akan berbeda-beda. Hal ini dikarenakan cakrawala harapan seseorang itu ditentukan oleh pendidikan, pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan dalam menanggapi karya sastra.
Teori resepsi dikembangkan oleh RT Segers (1978:36) dalam bukunya Receptie Esthetika (1978) Buku Receptie Esthetika diawali dengan dasar-dasar resepsi sastra ditentukan ada tiga dasar faktor cakrawala harapan yang dibangun pembaca:
  1. norma-norma yang terpancar dari teks-teks yang telah dibaca oleh pembaca;
  2. pengetahuan dan pengalaman atas semua teks yang telah dibaca sebelumnya;
  3. pertentangan antara fiksi dan kenyataan, yaitu kemampuan pembaca untuk memahami, baik secara horison “sempit” dari harapan-harapan sastra maupun dalam horison “luas” dari pengetahuannya tentang kehidupan.
Selanjutnya, Pradopo (2007:208) mengemukakan bahwa dalam karya sastra ada tempat-tempat terbuka (open plek) yang “mengharuskan” para pembaca mengisinya.  Hal ini berhubungan dengan sifat karya sastra yang multi tafsir. Oleh karena itu, tugas pembacalah untuk memberi tanggapan estetik dalam mengisi kekosongan  dalam  teks  tersebut.  Pengisian  tempat  terbuka  ini  dilakukan  melalui
proses konkretisasi (hasil pembacaan) dari pembaca. Jika pembaca memiliki pengetahuan yang luas tentang kehidupan, pastilah konkretisasinya akan “sempurna” dalam mengisi “tempat-tempat terbuka (open plak) dengan baik.
C. Pembaca
Pembaca yang dimaksudkan dalam resepsi terbagi dua, yaitu pembaca biasa dan pembaca ideal. Pembicara biasa adalah pembaca dalam arti sebenarnya, yang membaca karya sastra sebagai karya sastra, bukan sebagai bahan penelitian. Pembaca ideal adalah pembaca yang membaca karya sastra sebagai bahan penelitian. Pembaca ini membaca karya sastra dengan tujuan tertentu (Junus, 1985:52).
Luxemburg (1982:77) menyatakan pembaca “di dalam” teks atau pembaca implisit dan pembaca “di luar teks” atau pembaca eksplisit. Pembaca implisit atau pembaca yang sebetulnya disapa oleh pengarang ialah gambaran mengenai pembaca yang merupakan sasaran si pengarang dan yang terwujud oleh segala petunjuk yang kita dapat dalam teks. Pembaca eksplisit adalah pembaca kepada siapa suatu teks diucapkan.
Dalam meneliti karya sastra berdasarkan metode estetika resepsi, sesungguhnya dapat dilakukan dalam dua cara, yaitu cara sinkronik dan diakronik. Sinkronik adalah penelitian resepsi terhadap sebuah karya sastra dalam satu masa atau satu periode sastra, sedangkan diakronik adalah penelitian terhadap sebuah karya sastra dalam beberapa masa atau beberapa periode sastra, dari masa karya sastra terbit, kemudian resepsi periode selanjutnya hingga sekarang. Dengan kata lain, sinkronik meneliti karya sastra dalam hubungannya dengan pembaca sezaman atau satu periode sastra. Cara kedua lebih rumit karena melibatkan tanggapan pembaca sepanjang sejarah atau beberapa periode sastra (Ratna, 2008:167).
Penggolongan suatu karya sastra ke dalam suatu periode tertentu, tentu harus didasarkan oleh ciri-ciri tertentu. Setiap periode/angkatan sastra mempunyai ciri yang berbeda.  Ciri   khas   sastra   setiap   periode / angkatan   merupakan  gambaran   dari
masyarakatnya sebab sastra merupakan hasil dari masyarakatnya serta ciri-ciri unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra itu sendiri. Berdasarkan pendapat itu, terjadilah penggolongan sastra atau periodisasi sastra seperti berikut.
1. Periode 1920-an atau Masa Balai Pustaka
2. Periode 1930-an atau Masa Pujangga Baru
3. Periode 1945-an atau Masa Angkatan 45
4. Periode 1966-an atau Masa Angkatan 66
5. Periode 1970-an atau Masa Sastra Kontemporer
6. Periode 2000-an atau Masa Angkatan 2000.
D. Penerapan Resepsi Sastra Warna “Lokal” pada Cerpen “Sri Sumarah” dalam Kumpulan Cerpen Seribu Kunang-Kunang di Mahattan Karya Umar Kayam
1. Pengertian Warna “Lokal”
Bangsa Indonesia memiliki budaya yang majemuk atau beranekaragam budaya, yang memengaruhi perkembangan sastra di tanah air. Pengaruh yang muncul pada karya-karya sastra adalah warna lokal seperti cerpen “Sri Sumarah” dalam kumpulan cerpen Seribu Kunang-Kunang di Mahattan karya Umar Kayam. Mujiningsih (2003:1) mengutip Edy bahwa definisi warna lokal atau warna tempatan adalah suasana kedaerahan atau tempatan tertentu yang dilukiskan pengarang dalam karyanya. Warna lokal biasanya didukung dengan pilihan kata dan istilah serta sikap dan lingkungan tokoh yang dilukiskan pengarang. Penelitian resepsi sastra pada cerpen “Sri Sumarah” dilakukan secara sinkronik periode sastra 70-an.
2. Sinopsis Cerpen “Sri Sumarah”
Cerpen “Sri Sumarah” mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang wanita Jawa yang masih keturunan priyayi. Pada cerpen ini nuansa Jawa yang kental terlihat dalam menceritakan makna nama yang tersandang oleh tokoh Sri Sumarah. Nama tokoh ini berarti Sri yang menyerah, terserah, atau pasrah. Sikap ini diajarkan oleh neneknya dan ingin diajarkannya pada anaknya pula. Sikap sumarah diterjemahkan Sri sebagai kepasrahan ketika dijodohkan neneknya dengan Mas Martokusumo, suaminya.
Cobaan menimpa hidupnya, suaminya yang tercinta ini meninggal pada saat usia pernikahan mereka menginjak kedua belas tahun dan penyebab suaminya meninggal suaminya itu adalah wabah penyakit eltor yang menyerang kabupaten mereka.
Sepeninggalan almarhum suaminya, beberapa lelaki mencoba untuk melamarnya, termasuk Pak Carik, tapi Sri menolaknya. Ia lebih fokus untuk menghidupi anaknya Tun. Sri Sumarah menyekolahkan anaknya Tun di kota kabupaten, tidak sampai tamat karena Tun terpaksa harus dikawinkan dengan pemuda yang menghamilinya dan pemuda itu bernama Yos. Sri pun harus rela menggadaikan sawah dan perkarangannya untuk membiayai pernikahan anaknya.
Sawah itu pun tidak berhasil ditebusnya kembali karena akibat dampak dari inflasi yang menyebabkan pesanan jahitannya menurun drastis dan jualan pisang gorengnya tidak laku lagi serta buruknya hasil panen dari sawahnya tersebut. Ternyata cobaan hidup belum selesai, menantunya Yos adalah aktivitis CGMI yang terlibat dalam pemberontakan G30S PKI. Akhirnya Yos tertembak mati dalam suatu operasi pengejaran terhadap para buronan politik dan anaknya Tun akhirnya menyerahkan diri kepada pihak yang berwenang dan menjadi tahanan politik.
Setelah peristiwa tragedi Yos dan Tun itu, Srilah yang mengurus Ginuk, cucu satunya-satunya. Sikap sumarah tetap dijalankannya. Sikap itu mengiringinya selama berusaha memenuhi hidup. Ia memilih bekerja menjadi tukang pijit. Memijit dipilihnya sebagai pekerjaan setelah mendapat wisik saat bertirakat. Dalam tirakatnya, ia tertidur dan mimpi bertemu dengan mendiang suaminya Pak Guru Martokusumo yang minta dipijit olehnya. Sri sumarah pun menganggap bahwa mimpi ini adalah semacam pesan kepadanya dan ia pun memutuskan untu menjadi tukang pijit.
Sejak itu ia memulai perjalanan hidup baru dengan modal memijit. Pekerjaan memijit Sri dinilai bagus oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia mendapat cukup uang untuk menghidupi dirinya, dan Ginuk. Pekerjaan ini dijalani Sri dengan biasa-biasa saja, meskipun ia harus banyak melakukan kontak fisik dengan laki-laki. Sikap bakti berperan di sini. Namun, hatinya sempat goyah ketika suatu hari harus memijit seorang pelanggan pria muda yang tampan dan gagah. Hal ini sekaligus “menggelincirkan” saat ia memijit pemuda dari Jakarta yang membuatnya terkagum dan terpesona.
3. Tanggapan Pembaca Kritis yang Pro kepada Warna “Lokal” dalam Cerpen “Sri Sumarah”
Ada beberapa tanggapan pembaca kritis pada tahun 1970-an ini dikutip dari Mujiningsih (2003:15—20) yaitu sebagi berikut.
a. Tanggapan Pembaca Kritis Tahun 1970-an
  1.  
    1. Satyagraha Hoerip, “Kisah Dua Orang Wanita Jawa Korban Pemberontakan Gestapu PKI”, Sinar Harapan, April, 1976. Hoerip setuju terhadap hadirnya warna lokal. Ia menyatakan bahwa pengarang yang berasal dari Jawa telah berhasil menggambarkan “cara” Jawa dalam karyanya sebagaimana dikehendaki cerita. Adapun isi tanggapannya adalah mengupas kesuksesan Umar Kayam sebagai penulis prosa yang berasal dari Jawa dalam melukiskan cara orang Jawa dalam terlibat dalam situasi yang dikehendaki cerita.
    2. Asruchin T. Sam, “Wanita Jawa versi Umar Kayam”, Salemba; 26 Mei 1976. Hal yang ditanggapi adalah makna nama tokoh yang sesuai dengan budaya Jawa. Asruchin juga setuju dengan adanya warna lokal yang dilihat dari pernyataan bahwa makna nama tokoh sudah menunjukkan karakter budaya Jawa. Adapun isi tanggapannya adalah telaah terhadap tokoh Sri Sumarah yang apabila ditinjau dari segi namanya telah menunjukkan kepasrahan dan penyerahan diri. Ia juga mengaitkannya dengan karakter budaya Jawa yang mengajarkan sikap kepasrahan perempuan.
    3. Korrie Layun Rampan, “Tiga Cerpen Umar Kayam”, Suara Karya, 11 Agustus 1977. Hal yang ditanggapi adalah struktur cerpen berupa penokohan, latar dan perbandingan tokoh. Korrie setuju dengan hadirnya warna lokal dapat dilihat dari pernyataan bahwa karya Umar Kayam dapat dijadikan referensi sosio-kultural. Adapun isi tanggapannya bahwa budaya Jawa yang menjadi latar sosial karya ini berhasil membentuk karakter tokoh utama
b. Tanggapan Pembaca Kritis Tahun 1980-an
  1.  
    1. Tirto Suwondo, “Sri Sumarah Cermin Wanita Jawa”, 14 April 1985. Hal yang ditanggapi adalah tokoh utama Sri Sumarah. Tirto setuju dengan hadirnya warna lokal dengan mengungkapkan bahwa sikap tokoh Sri Sumarah memperlihatkan citra seorang wanita Jawa. Isi tanggapannya adalah Tirto menafsirkan dan menentukan makna Sri Sumarah berdasarkan karya itu sendiri. Makna yang termuat dalam karya ini mengesankan karena struktur alur tokoh dan penokohannya. Sikap Sri Sumarah yang “sumarah” akan selalu sadar dan rela menerima segala yang menimpa dirinya.
    2. Sundari Maharto (1987) dikutip B. Rahmanto (2003:18—19) yang menelaah Sri Sumarah dari sudut citra wanita, menyimpulkan bahwa lewat cerpennya, Umar Kayam menunjukkan dominasi pria dalam masyarakat Jawa. Sebagai isteri, wanita Jawa dituntut mengabdikan diri kepada suami. Sebagai ibu, wanita harus bersedia mengorbankan diri dan menderita bagi anak-anaknya sesuai dengan tokoh pewayangan Sembrada dan Kunti.
c. Tanggapan Pembaca Kritis Tahun 1990-an
Tanggapan pembaca kritis pada tahun 90-an yang dikutip Mujiningsih (2003:21) hanya berjumlah satu orang, yaitu: Puji Santosa, dalam refleksi Sri Sumarah dan Bauk, terbit 15 September 1990. Hal yang ditanggapinya adalah refleksi kehidupan yang ada dalam karya ini. Isi tanggapannya bahwa Sri Sumarah adalah potret wanita Jawa yang selalu aktif mengakrabi apa yang memang harus terjadi.
4. Tanggapan Pembaca Kritis yang Kontra kepada Warna “Lokal” dalam Cerpen “Sri Sumarah”
a. Tanggapan Pembaca Kritis Tahun 1970-an
Tanggapan pembaca kritis pada tahun 1970-an yang dikutip Mujiningsih (2003:21) hanya berjumlah satu orang, yaitu: Jakob Sumardjo, dalam artikel yang berjudul Umar Kayam dengan lagam Jawa itu dimuat dalam Pikiran Rakyat, 8 September 1976. Hal yang ditanggapinya adalah masalah gaya pengarang. Penganggap tidak setuju terhadap warna lokal dengan menunjuk kekurangan cerpen ini, yaitu dalam soal bahasa berupa pemakaian kata Jawa yang terlalu banyak sehingga dikhawatirkan tidak komunikatif, terutama untuk pembaca non-Jawa.
b. Tanggapan Pembaca Kritis Tahun 1980-an
Pada tahun 1980-an hanya berhasil ditemukan satu penanggap, yaitu Ida Sundari Husein yang mengemukakan bahwa untuk dapat menikmati cerpen “Sri Sumarah”, pembaca bukan penutur bahasa Jawa akan menghadapi masalah-masalah berikut.
  1. Penggunaan istilah dan ungkapan bahasa Jawa.
  2. Latar belakang sosial budaya berupa peranan nama bagi orang Jawa, filsafat Jawa tentang sikap mensyukuri keadaan bagaimanapun jeleknya dan sikap menahan emosi, pendidikan anak perempuan, sikap seorang isteri dan ibu, dan tirakat.
E. Analisis Tanggapan Pembaca Kritis Tahun 1970-an
Berdasarkan tanggapan-tanggapan pembaca yang telah diuraikan di atas (sebanyak 4 tanggapan, ada 3 tanggapan yang pro terhadap hadirnya warna lokal dalam cerpen “Sri Sumarah”; dan ada 1 tanggapan yang kontra terhadap hadirnya warna lokal dalam cerpen “Sri Sumarah”). Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran warna lokal tidak menganggu.
1. Tanggapan yang Pro terhadap Hadirnya Warna “lokal” dalam Cerpen “Sri Sumarah”
Satyagraha Hoerip (1976) mengatakan bahwa karya Umar Kayam ini sangat istimewa karena Umar Kayam dapat menampilkan dengan baik ”cara” orang Jawa menghadapi masalah. Hal ini dapat dilihat dari problema budaya Jawa yang mucul dan dialami tokoh utama “Sri Sumarah”. Tidak ada keberatan Hoerip terhadap hadirnya warna lokal dalam cerpen ini.
Selanjutnya, Asruchin T. Sam (1976) yang menyatakan hasil pengamatannya terhadap tokoh utama Sri Sumarah sebagai wanita Jawa yang lengkap. Selain itu, cerpen ini menampilkan budaya Jawa yang kental sehingga mengejutkan pembaca. Asruchin pun tidak mempermasalahkan hadirnya warna lokal dalam cerpen ini.
Selain itu, Korrie Layun Rampan (1977) berpendapat bahwa adanya warna lokal yang dominan. Inilah yang mendapat perhatian dari para penanggapnya di kemudian hari. Korrie mengemukakan tidak keberatan hadirnya warna lokal dalam cerpen ini, bahkan ia mendukung kehadiran warna lokal tersebut.
2. Tanggapan yang Kontra terhadap Hadirnya Warna “lokal” dalam Cerpen “Sri Sumarah”
Tanggapan yang kontra terhadap hadirnya warna lokal  muncul dari Jacob Sumardjo (1976) yang meragukan apakah karya sastra ini dapat dibaca oleh orang no-Jawa, karena kadar bahasa Jawa yang digunakan cukup dominan. Walaupun ia termasuk orang Jawa, tetapi ia gelisah banyak kosakata Jawa yang digunakan. Hal ini mempersulit pembaca non-Jawa untuk memahami isi cerpen “Sri Sumarah”.
F. Analisis Tanggapan Pembaca Kritis Tahun 1980-an
Berdasarkan tanggapan-tanggapan pembaca yang telah diuraikan di atas (sebanyak 3 tanggapan, ada 2 tanggapan yang pro terhadap hadirnya warna lokal dalam cerpen “Sri Sumarah”; dan ada 1 tanggapan yang kontra terhadap hadirnya warna lokal dalam cerpen “Sri Sumarah”). Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran warna lokal tidak menganggu.
1. Tanggapan yang Pro terhadap Hadirnya Warna “Lokal” dalam Cerpen “Sri Sumarah”
Tirto Suwondo (1985) menyatakan bahwa sikap tokoh utama Sri Sumarah memperlihatkan citra seorang wanita Jawa. Sri Sumarah yang akan selalu sadar dan rela menerima segala kejadian yang menimpa dirinya. Ia setuju dengan hadirnya warna lokal dalam cerpen tersebut. Selanjutnya, Sundari Maharto (1987) yang menelaah Sri Sumarah dari sudut citra wanita, menyimpulkan bahwa lewat cerpennya, Umar Kayam menunjukkan dominasi pria dalam masyarakat Jawa. Sebagai isteri, wanita Jawa dituntut mengabdikan diri kepada suami. Sebagai ibu, wanita harus bersedia mengorbankan diri dan menderita bagi anak-anaknya sesuai dengan tokoh pewayangan Sembrada dan Kunti.
2. Tanggapan yang Kontra terhadap Hadirnya Warna “Lokal” dalam Cerpen “Sri Sumarah”
Ida Sundari Husein mengemukakan kendala yang akan ditemui pembaca bukan penutur bahasa Jawa akan menghadapi masalah-masalah berikut, yaitu penggunaan istilah dan ungkapan bahasa Jawa dan latar belakang sosial budaya berupa peranan nama bagi orang Jawa.
G. Analisis Tanggapan Pembaca Kritis Tahun 1990-an
Berdasarkan tanggapan pembaca yang telah diuraikan di atas (hanya ada 1 tanggapan yang pro terhadap hadirnya warna lokal dalam cerpen “Sri Sumarah”; dan tidak ada tanggapan yang kontra terhadap hadirnya warna lokal dalam cerpen “Sri Sumarah”). Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran warna lokal tidak menganggu. Puji Santosa, dalam refleksi Sri Sumarah dan Bauk, terbit 15 September 1990. Ia berpendapat bahwa Sri Sumarah adalah potret wanita Jawa yang selalu aktif mengakrabi apa yang memang harus terjadi.
III. Penutup
Resepsi sastra beorientasi pada pendekatan pragmatik yang memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca dalam karya sastra. Tanggapan pembaca terhadap sebuah karya sastra sejak dari dulu hingga sekarang akan berbeda-beda antara pembaca yang satu dengan yang lain. Begitu juga dengan tiap periode berbeda dengan periode lainnya. Hal ini disebabkan oleh perbedaan cakrawala harapannya. Dari tanggapan pembaca kritis dari tahun 70-an, 80-an, dan 90-an baik pro maupun kontra pada cerpen “Sri Sumarah” karya Umar Kayam, Umar Kayam mampu melukiskan warna lokal yang sangat kental dalam kehidupan orang Jawa. Walaupun beberapa pembaca kritis menganggap cerpen ini terlalu banyak istilah Jawa yang akan menyulitkan pembaca non-Jawa.


No comments:

Post a Comment